Daftar Oriflame Tanya Wuri 0822 609 2000 8 / Pin BB 29 788 DCD


Rasanya kita semua tidak kenal dengan orang yang bernama Jean-Dominique Bauby, kecuali Anda perempuan dan berbahasa Perancis atau suka  membaca majalah bernama Elle.

Jean-Dominique Bauby

Jean-Dominique Bauby

Ia pemimpin redaksi Elle. Tahun 1996 ia meninggal dalam usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoarnya yang “ditulisnya” secara sangat istimewa dan diberinya judul “Le Scaphandre” et le  Papillon The Bubble and the Butterfly).

Tahun 1995 ia terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut ‘locked-in syndrome’, kelumpuhan total yang disebutnya ‘seperti pikiran di dalam botol’. Memang ia masih dapat berpikir jernih tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak  mata kirinya. Jadi itulah caranya berkomunikasi dengan para perawatnya, dokter rumah sakit, keluarga dan temannya. Mereka  menunjukkan huruf demi huruf dan si Jean akan berkedip bila huruf yang ditunjukkan adalah yang dipilihnya. “Bukan main”, kata Anda. Ya, itu juga reaksi semua yang membaca kisahnya. Buat kita, kegiatan menulis  mungkin sepele dan menjadi hal yang biasa. Namun, kalau kita disuruh  menulis” dengan cara si Jean, barangkali kita harus menangis dulu berhari-hari.

Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup maupun kemauannya untuk  tetap menulis dan membagikan kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal 3 hari setelah bukunya diterbitkan. Jadi, “Berapa pun problem dan stres dan beban hidup kita semua, hampir tidak ada artinya dibandingkan dengan si Jean!” Apa yang antara lain ditulisnya di  memoarnya itu?

 

“I would be the happiest man in the world if I could just properly  swallow the saliva that permanently invades my mouth”.

 

Bayangkan, menelan ludah pun ia tak mampu. Jadi kita yang masih bisa makan bakmi, nggak usahlah Bakmi Gajah Mada, indomie yang Rp. 1000 saja, seharusnya sudah berbahagia 100 kali

lipat disbanding si Jean. Kita bahkan senantiasa mengeluh, setiap hari, sepanjang tahun. We are the constant whiners.

 

Apa lagi yang dikerjakan Jean di dalam kelumpuhan totalnya selain menulis buku? Ia mendirikan suatu asosiasi penderita ‘locked-in syndrome’ untuk membantu keluarga penderita.

Ia juga menjadi “bintang film” alias memegang peran di dalam suatu film yang dibuat TV Perancis yang menceritakan kisahnya. Ia merencanakan buku lainnya setelah ia selesai menulis

yang pertama. Pokoknya ia hidup seperti yang  dikehendaki Penciptanya, ‘to celebrate life’, to do something good for others.

Jadi, betapa pun kemelutnya keadaan kita saat ini, mereka yang sedang  stres berat, mereka yang sedang berkelahi baik dengan diri sendiri maupun melawan orang lain atau anggota

keluarga, mereka yang sedang tidak bahagia karena kebutuhan hidupnya tidak terpenuhi, mereka yang jalannya masih terpincang-pincang karena baru saja terinjak paku, mereka yang

sedang di-PHK, saya yakin kita masih bisa menelan ludah. Semoga kita semua tidak terus menjadi whiner, pengeluh abadi, manusia yang sukar puas. Kata orang bijak, “Think and Thank”, berfikirlah dan kemudian bersyukurlah.

 

GBU All….

 

– Anonymous-

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: